pages

Monday, November 15, 2010

pohon, daun dan angin

POHON

Orang-orang memanggilku Pohon karena aku sangat baik dalam menggambar pohon. Aku selalu menggunakan gambar pohon pada sisi kanan sebagai trademark pada semua lukisanku. Aku telah berpacaran sebanyak 5 kali.

Ada satu wanita yang sangat Aku cintai. Tapi Aku tidak punya keberanian untuk mengatakannya. Dia tidak cantik, tidak memiliki tubuh yang sexy, sangat peduli dengan orang lain, religius. Tapi dia hanya wanita biasa saja.

Aku menyukainya. Sangat menyukainya. Gayanya yang innocent dan apa adanya, kemandiriannya, kepandaiannya dan kekuatannya.

Alasanku tidak mengajaknya kencan karena aku merasa dia sangat biasa dan tidak serasi untukku. Aku takut jika kami bersama semua perasaan yang indah ini akan hilang. Aku takut kalau gossip-gosip yang ada akan menyakitinya.

Aku merasa dia adalah sahabatku. Aku akan memilikinya tiada batasnya, tidak harus memberikan semuanya hanya untuk dia.

Alasan yang terakhir, membuat dia menemaniku dalam berbagai pergumulan selama 3 tahun ini. Dia tau Aku mengejar gadis-gadis lain dan aku telah membuatnya menangis selama 3 tahun.

Ketika AKU mencium pacarku yang ke-2 terlihat olehnya... Dia hanya tersenyum dengan berwajah merah..."lanjutkan saja" katanya, setelah itu pergi meninggalkan kami. Esoknya, matanya bengkak..dan merah... AKU sengaja tidak mau memikirkan apa yang menyebabkannya menangis. Tapi aku tertawa, bercanda dengannya seharian di ruang itu. Di sudut ruang itu dia menangis. Dia tidak tau bahwa aku kembali untuk mengambil sesuatu yang tertinggal. Hampir 1 jam kulihat dia menangis disana.

Pacarku yang ke-4 tidak menyukainya. Pernah sekali mereka berdua perang dingin. Aku tau bukan sifatnya untuk memulai perang dingin. Tapi aku masih tetap bersama pacarku. Aku berteriak padanya dan matanya penuh dengan air mata sedih dan kaget.

Aku tidak memikirkan perasaannya dan pergi meninggalkannya bersama pacarku. Esoknya masih tertawa dan bercanda denganku seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya. Aku tau dia sangat sedih dan kecewa tapi dia tidak tau bahwa sakit hatiku sama buruknya dengan dia. Aku juga sedih.

Ketika aku putus dengan pacarku yang ke 5, aku mengajaknya pergi. Setelah kencan satu hari itu, aku mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin kukatakan padanya. Dia mengatakan bahwa kebetulan sekali bahwa dia juga ingin mengatakan sesuatu padaku. Aku cerita tentang putusnya aku dengan pacarku. Dia berkata bahwa dia sedang memulai suatu hubungan dengan seseorang.

Aku tau pria itu, dia sering mengejarnya selama ini. Pria yang baik, penuh energi dan menarik. Aku tak bisa memperlihatkan betapa sakit hatiku, aku hanya tersenyum dan mengucapkan selamat padanya. Ketika sampai di rumah, sakit hatiku bertambah kuat dan aku tidak dapat menahannya. Seperti ada batu yang sangat berat didadaku. Aku tak bisa bernapas dan ingin berteriak, namun apa daya…

Air mataku mengalir tak terasa aku menangis karenanya. Sudah sering aku melihatnya menangis untuk pria yang mengacuhkan kehadirannya. Handphoneku bergetar. Ternyata ada SMS masuk. SMS itu dikirim 10 hari yang lalu ketika aku sedih dan menangis...

SMS itu berbunyi

    "DAUN terbang karena ANGIN bertiup atau karena POHON tidak memintanya untuk tinggal?"


DAUN

Aku suka mengoleksi daun-daun, kenapa? Karena aku merasa bahwa daun untuk meninggalkan pohon yang selama ini ditinggali membutuhkan banyak kekuatan.

Selama 3 tahun aku dekat dengan seorang pria, bukan pacar tapi sebagai sahabat. Tapi ketika dia mempunyai pacar untuk yang pertama kalinya, aku mempelajari sebuah perasaan yang belum pernah aku pelajari sebelumnya, cemburu.

Perasaan di hati ini tidak bisa digambarkan dengan menggunakan Lemon. Hal itu seperti 100 butir lemon busuk. Mereka hanya bersama selama 2 bulan. Ketika mereka putus, aku menyembunyikan perasaan yang luar biasa gembiranya. Tapi sebulan kemudian dia bersama seorang gadis lagi.

Aku menyukainya dan aku tau bahwa dia juga menyukaiku, tapi mengapa dia tidak mau mengatakannya? Jika dia mencintaiku, mengapa dia tidak memulainya dahulu untuk melangkah? Ketika dia punya pacar baru lagi, hatiku sedih. Waktu berjalan dan berjalan, hatiku sedih dan kecewa...

Aku mulai mengira bahwa ini adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan. Tapi mengapa dia memperlakukanku lebih dari sekedar seorang teman? Menyukai seseorang sangat menyusahkan hati. Aku tau kesukaannya dan kebiasaannya. Tapi perasaannya kepadaku tidak pernah bisa diketahui. Kau tidak mengharapkan aku seorang wanita untuk mengatakannya bukan? Diluar itu, aku mau tetap disampingnya, memberinya perhatian, menemani, dan mencintainya. Berharap suatu hari nanti dia akan datang dan mencintaiku. Hal itu seperti menunggu telefonnya tiap malam. Mengharapkannya mengirimku SMS. Aku tau sesibuk apapun dia pasti meluangkan waktunya untuk ku. Karena itu aku menunggunya.

3 tahun cukup berat untuk kulalui dan aku mau menyerah. Kadang aku berpikir untuk tetap menunggu. Dilema yang menemaniku selama 3 tahun ini.

Akhir tahun ke 3, seorang pria mengejarku. Setiap hari dia mengejarku tanpa lelah. Segala daya upaya telah dilakukan walau seringkali ada penolakan dariku. Aku berpikir apakah aku ingin memberikan ruang kecil di hatiku untuknya? Dia seperti angin yang hangat dan lembut, mencoba meniup daun untuk terbang dari pohon.

Akhirnya aku sadar bahwa aku tidak ingin memberikan angin ini ruang yang kecil di hatiku. Aku tau angin akan membawa pergi daun yang lusuh jauh dan ketempat yang lebih baik. Akhirnya aku meninggalkan Pohon. Tapi pohon hanya tersenyum dan tidak memintaku untuk tinggal. Aku sangat sedih memandangnya tersenyum ke arahku.

    "DAUN terbang karena ANGIN bertiup atau karena POHON tidak memintanya untuk tinggal?"


ANGIN

Aku menyukai seorang gadis bernama Daun. Karena dia sangat bergantung pada pohon, jadi aku harus menjadi angin yang kuat.

Angin akan meniup daun terbang jauh. Pertama kalinya, aku melihat seseorang memperhatikan kami. Ketika itu dia selalu duduk disana sendirian atau dengan teman-temannya memerhatikan pohon. Ketika pohon berbicara dengan gadis-gadis, ada cemburu di matanya. Ketika pohon melihat ke arah daun, ada senyum di matanya. Memperhatikannya menjadi kebiasaanku, seperti daun yang suka melihat pohon. Satu hari saja tak kulihat dia aku merasa sangat kehilangan.

Di sudut ruang itu, ku lihat pohon sedang memperhatikan daun. Air mengalir di mata daun ketika Pohon pergi. Esoknya, ku lihat daun di tempatnya yang biasa, sedang memperhatikan pohon. Aku melangkah dan tersenyum padanya. Kuambil secarik kertas, kutulis dan kuberikan padanya. Dia sangat kaget.

Dia melihat ke arahku, tersenyum dan menerima kertas dariku. Esoknya dia dating, menghampiriku dan memberikan kembali kertas itu. Hati daun sangat kuat dan angin tidak bisa meniupnya pergi, hal itu karena daun tidak mau meninggalkan pohon. Aku melihat kearahnya, kuhampiri dengan kata-kata itu. Sangat pelan dia mulai membuka dirinya dan menerima kehadiranku dan
telfonku.

Aku tau orang yang dia cintai bukan aku, tapi aku akan berusaha agar suatu hari dia menyukaiku. Selama 4 bulan aku telah mengucapkan kata cinta tidak kurang dari 20 kali kepadanya. Hampir tiap kali dia mengalihkan pembicaraan, tapi aku tidak menyerah. Keputusanku bulat. Aku ingin memilikinya dan berharap dia akan setuju menjadi pacarku.

Aku bertanya "Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak pernah membalas? Mengapa kau selalu membisu?"

Dia berkata "Aku menengadahkan kepalaku"

"Ah?" Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar.

"Aku menengadahkan kepalaku" dia berteriak.

Kuletakkan telepon, melompat, berlari seribu langkah ke rumahnya. Dia membuka pintu bagiku. Ku peluk erat-erat tubuhnya.

    "DAUN terbang karena tiupan ANGIN atau karena POHON tidak memintanya untuk tinggal?"



sumber: kaskus.us


read more “pohon, daun dan angin”

Thursday, October 28, 2010

SUMPAH PEMUDA


KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA. 

KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA. 

KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA.

Djakarta, 28 Oktober 1928


Selamat Hari Sumpah Pemuda. 
read more “SUMPAH PEMUDA”

Monday, October 25, 2010

tiga ekor anak kucing

Dulu aku sering sekali memandang rendah cita-cita orang lain. Walaupun itu adalah cita-cita yang sangat mulia sekalipun. Anak-anak yang ingin menjadi dokter misalnya, mereka bercita-cita ingin membuat kehidupan menjadi lebih baik dengan menyembuhkan orang-orang sakit. Tetapi menurutku lain. Mereka hanya ingin mengikuti mode. Mereka akan keren dengan menggunakan titel “dokter” di depan namanya. Masuk Fakultas Kedokteran di Universitas terkenal. Lalu mendapat banyak uang dari penghasilannya.

Tetapi, semua pandangan itu berubah sejak sekitar satu tahun yang lalu.

***

Suasana Lebaran Idul Fitri masih terasa pekat. Ini merupakan hari pertama masuk sekolah setelah libur selama satu bulan lebih. Begitu banyak bahan obrolan baru. Begitu banyak canda-tawa setelah begitu lama tidak saling bertemu. Aku suka suasana ini walaupun jarang berabung dengan kegiatan-kegiatan tersebut.

Aku dan beberapa orang temanku hanya tidur-tiduran di belakang kelas daripada ikut bergabung dengan teman-teman lainnya. Tetapi lama-kelamaan hal ini juga membuatku gerah dan bosan. Mungkin berkeliling kelas akan membuat rasa bosanku hilang, mungkin juga ada beberapa cerita mereka yang cukup seru untuk didengarkan.

“Buku apa itu? Novel ya?” sahutku kepada Anton yang sedang asik membaca sebuah buku.

“iya, ini novel tentang pecinta alam” jawabnya singkat.

Tak lama kemudian ia menutup novel yang baru setengahnya ia baca. Lalu mulai bercerita panjang lebar dengan penuh semangat seperti seorang yang sangat antusias. Tetapi cerita itu memang cukup inspiratif menurutku. Kemudian ia juga bercerita tentang cita-citanya yang ingin menjadi anggota paramedis yang sangat hebat dan tangguh di segala situasi. Mampu bergerak cepat dan dapat berfikir jernih dalam kondisi darurat. Tidak membedakan makhluk apapun yang akan ditolongnya. Hebat jika benar-benar diwujudkan oleh Tuhan.

Secara tidak lansung berbagai macam spekulasi muncul di benakku seperti wajar saja ia Anton bercita-cita seperti itu karena belum mengetahui pekerjaan yang lebih keren seperti musisi dan pelaku seni lainnya. Wajar saja Anton bercita-cita seperti itu karena masih yakin dengan cita-cita masa taman kanak-kanaknya dahulu. Atau wajar saja Anton bercita-cita seperti itu karena anggota tim medis seperti itu akan memberikan penghasilan yang menggiurkan, apalagi ia juga tergolong dalam keluarga menengah kebawah.

***

Hari Rabu. Fisika dan Kimia ada pada hari ini. Aku benci Hari ini. Satu-satunya hal yang paling indah adalah mendengar bel tanda pelajaran berakhir. Lalu pulang.

Melihat jam di handphone di menit-menit terakhir dan menympan buku lebih awal. Itulah yang selalu ku lakukan menjelang pulang. Jika bel telah berbunyi. Secara tak lansung kegembiraanku telah terpancar melalui raut wajah. Lagipula hari ini aku ada rencana untuk bermain bersama Anton di rumah. Kebetulan rumahku tidak begitu jauh dari sekolah. Cuma berjalan kaki sekitar 10 menit dari sekolah.
Dalam perjalanan ke rumahku, Anton bercerita lagi tentang apa yang akan dilakukannya jika cita-citanya itu terkabul. Dia terlihat sangat gembira sekali saat itu. Entah kenapa emosiku juga terbawa saat melihat temanku ini senang.

Kami terdiam begitu mendengar suara gemuruh yang tak tahu dimana sumbernya.

“Suara apa itu?” aku bertanya kepada Anton. Tetapi Ia hanya mengangkat bahu sambil memasang muka heran mengisyaratkan ia juga tidak tahu apa-apa. Spontan kami melihat keatas karena kami menganggap itu adalah bunyi pesawat kargo TNI yang sering lewat di daerah ini. Saat itu juga tubuh kami dan orang-orang di sekitar dihempaskan ke kiri, kanan, atas dan bawah begitu kuatnya. Kami tidak mampu berdiri dengan kaki kami sendiri selama goncangan tersebut.

Sejenak aku berfikir bahwa inilah akhir dunia. Gempa itu begitu kuat. Kuat Sekali. Sehingga kami akan bisa lagi berfikir jernih setelah beberapa detik pasca goncangan tersebut. Pada saat itu kami saling bertanya apa yang baru saja terjadi.
“kamu tidak apa-apa kan?” Anton tiba-tiba saja bertanya saat aku masih berada di alam lamunanku.

“Eh.. Iya.. Aku tidak apa-apa kok” jawabku setelah tersadar kembali ke dunia nyata sambil sedikit memberika anggukan kecil untuk mendukung jawabanku tersebut.

Kami berdua berdiri. Melihat suasana sekitar kami. Semuanya membuat hatiku miris sekali. Seorang tukang satu yang tertegun sangat dalam melihat gerobak dagangannya terbalik dengan kuah sate berceceran di sekitarnya. Di sebuah konter handphone, etalase untuk menaruh barang dagangan yang terbalik dan kacanya pecah. Beberapa bangunan juga terlihat miring dan retak. Asap mengepul menutupi langit sore hari itu.

Aku terkejut saat Anton berkata “Hei, ada anak kucing di dalam sana, aku akan mengeluarkannya”.

“Jangan, biarkan saja, jika ada gempa susulan bagaimana?”

“Tenang saja, aku tahu apa yang akan ku lakukan” jawabnya sambil tersenyum kecil.

Yasudah, kalau itu keinginanmu aku juga tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Begitu fikirku dalam hati sambil berdo’a tidak aka nada gempa susulan saat Anton masih berada di dalam sana.

Bangunan itu adalah sebuah Rumah Toko tiga lantai yang masih dalam tahap penyelesaian akhir. Aku dapat menilai bangunan itu tidak cukup kuat lagi untuk bertahan jika digoncang gempa sekali lagi. Didalamnya terdapat alat alat-alat proyek yang sedang tidak terpakai. Dibawahnya ada 4 ekor kucing, yaitu tiga anak kucing dan satu induknya.

Yang pertama kali dikeluarkan Anton adalah ketiga ekor anak kucing tersebut. Sukses. Sekarang hanya tinggal induk kucing tersebut. Tetapi sayang sekali. Gempa yang ku khawatirkan sebelumnya datang.

“Cepat keluar!” teriakku dari luar.

“Tanggung, tinggal satu ekor lagi!” teriaknya dari dalam.

Dengan cepat ia mengangkat kucing itu dan berlari membawanya keluar. Ia tampak kesulitan sekali karena tanah tempat ia berpijak bergoncang-goncang. Lalu bunyi gemuruh itu dating lagi disertai jatuhnya kabut-kabut retakan dari bangunan tersebut.
“awas bangunannyaa..!” aku tidak dapat melihat apa-apa. Pemandangan di sekitarku berubah jadi putih. Material bangunan yang runtuh itu bergelinding ke arahku.

Aku coba berteriak memanggil nama Anton sebisanya tetapi tidak ada jawaban. Aku coba bergerak mencarinya, cukup sulit juga ternyata. Selain itu, pernapasanku terganggu, aku tidak bisa bernapas dengan baik gara-gara debu dari reruntuhan bangunan ini.
Akhirnya ketemu juga. Dan aku hanya bisa terdiam melihat separo dari tubuh temanku ini yang berada di luar reruntuhan. Rasa cemas dan kasihan bercampur membuat air mataku keluar begitu saja. Begitu melihatku, perlahan kesadarannya mulai pulih. Lalu ia berteriak meminta tolong kepadaku. Meraung kesakitan yang dirasakannya di bagian kaki dan pinggangnya yang terhimpit reruntuhan. Tak lama kemudian, kesadarannya hilang kembali.

Orang-orang mulai berdatangan untuk menolongnya. Berusaha untuyk mengangkat reruntuhan tersebut dari atas tubuhnya. Tetapi aku tidak dapat melakukan apa-apa. Tubuhku kaku. Air terus bercucuran dari mataku. Kemudian penglihatanku kabur, kepalaku pusing, tenaga menghilang dan aku tidak tahu apa-apa lagi.

***

Hari sudah mulai gelap. Aku tersadar. Aku sedang berbaring di sebuah tikar plastik, kepalaku ditahan dengan sebuah bantal. Mungkin ini adalah tenda yang telah dibangun oleh tentara untuk menampung pengungsi. Aku coba untuk berdiri, tetapi sepertinya kondisiku memang belum kembali seratus persen.

“Sudah bangun nak? Saya mohon maaf atas temanmu” kata seorang bapak yang kira-kira sebaya dengan ayahku. Ia terlihat sibuk mengeluarkan obat-obatan dari kotak dan memisahkannya satu-persatu.

Aku menekurkan kepala. Mengeluarkan air mata lagi dan terisak sambil kedua tangan memegangi kepala. Aku hanya bisa menyesal. Apa yang seharusnya bisa kulakukan sore itu baru muncul di fikiranku sekarang. Akhirnya, aku hanya bisa menyesal.

Kenapa aku biarkan Anton menolong kucing-kucing itu sendirian. Bolak-balik mengeluarkan anak kucing dan induknya. Padahal bisa saja aku membantunya mengangkat induk kucing tersebut saat Anton mengangkat anak-anaknya. Yang aku bisa hanyalah menangis dan menangis. Aku menyesal sekali.

Lalu bapak itu berkata lagi, suaranya mengembalikan kesadaranku ke dunia nyata.

“Oh iya, anak-anak kucing yang diselamatkan temanmu itu ada disana” sambil menunjuk kearah sudut tenda.
Anak-anak kucing itu tidur berhimpitan mencari kehangatan satu sama lainnya. Begitu damai tanpa beban dan masalah. Temanku memang hebat.

Setelah mengambil tas, aku pamit pulang kepada bapak itu. Begitu berada di luar tenda, rerumputan terasa basah. Langit juga sudah gelap. Ternyata sore itu Kota ini diguyur hujan setelah digoncang gempa. Mungkin Tuhan ingin membersihkan udara yang telah tercampur dengan debu reruntuhan dan asap dari kebakaran.

Di rumah, hanya ada ibu dan kakak. Kata ibu, ayah juga berada di lapangan yang penuh tenda itu membantu para korban lainnya. Ibu juga terlihat cemas terhadap keadaanku. Tetapi kenyataannya aku baik-baik saja kok.
Keesokan harinya, Kamis, aku kembali ke daerah reruntuhan itu. Jenazah Anton sudah di evakuasi. Tetapi bekas ceceran darahnya masih belum hilang karena hujan kemarin. Rasanya semua itu bagaikan mimpi. Semuanya datang dan pergi begitu cepat. TIdak tahu kapan masa-masa itu akan datang. Semuanya hanya ada dalam kehendak yang Maha Kuasa.

Ternyata kucing itu juga berada disana. Aku baru menyadari bahwa induk kucing itu berhasil diselamatkan anton, walaupun di kakinya ada perban. Sepertinya patah. Dia hanya mengeong dan memandang kearah reruntuhan tersebut. Aku berjalan mendekatinya, mengelus kepalanya, dan sedikit berbisik “Anton sudah pergi, tidak ada lagi yang harus kau lakukan disini…”

Anton, kamu memang hebat. Bahkan sebelum lulus SMA pun ia sudah bisa mencapai cita-citanya. Menyelamatkan makhluk hidup tanpa membeda-bedakannya. Tanpa memikirkan kepentingannya sendiri. Bergerak cepat dalam keadaan darurat. Sungguh Hebat Sekali. Semoga saja kita bisa bertemu lagi di akhirat jika aku juga berada di tempat yang sama sepertimu. Tunggu aku yaa..

We’ll meet again my friend, someday soon…

Ihsan Husandi ~ cerpen fiksi untuk rakyat Sumatera Barat setelah 30 September 2009
read more “tiga ekor anak kucing”